26 12 / 2010
Perang Ini Sedang Terjadi
Hari ini hari Natal. Sebuah hari besar keagamaan yang dirayakan di seluruh dunia juga di Indonesia. Setiap mendekati momen seperti ini, saya merasa gelisah. Terutama saat membaca kepala berita suratkabar dan situs berita terkemuka. Saya takut menemukan berita buruk, entah pengeboman, pembakaran, pelarangan, segala bentuk penindasan.
Permusuhan warga terhadap gereja di lingkungannya. Spanduk 2 meter yang mendeklarasikan penolakan terhadap pembangunan gereja baru. Segala aktivitas lembaga sosial masyarakat yang memuja anarki dan memaki preferensi pribadi.
Dan hari ini pun tak luput: “Jemaat di Parung Dilarang Misa di Gereja”. Meskipun berita ini tidak lengkap dan tidak cukup menjawab beberapa pertanyaan saya, ada satu hal yang jelas: permusuhan masih terjadi.
Miris rasanya tiap membaca berita permusuhan antar umat beragama. Apalagi penindasan thdp umat yg sedang berhari raya. Apa ini bangsa yang selalu bilang bangga terhadap keragamannya?
Apa yang terjadi pada Bhinneka Tunggal Ika? Garuda Pancasila, yang selalu ada di dada. Akankah jadi simbol belaka, atau mengalami penambahan makna agar “sesuai perkembangan zaman”? Saya khawatir.
Para pemuka agama, pemimpin zikir dan doa, dimana Anda? Mohon bicara. Mungkin Anda lebih berpengaruh dari yang (seharusnya) punya pengaruh terbesar. Suara Anda mungkin lebih keras, akan didengar, menembus kepala yang panas dan hati yang keras di tengah hingar-bingar.
Perang ini sedang terjadi. Perang bukan dengan peluru, tetapi dengan caci maki. Perang yang menimbulkan korban tanpa luka di luar, namun perih di dalam. Ini perang panjang, bukan perang sehari-dua, setahun-dua, tapi lebih dari itu.
Saya bukan prajurit perang tersebut. Bukan juga korban. Saya ingin jadi kaum penengah, yang percaya hidup penuh keragaman dan kerukunan itu indah. Saya bersama mereka yang percaya Tuhan, namun juga kemanusiaan. Saya bersama mereka yang mengucapkan, “Selamat Hari Natal” kepada teman-temannya sambil menunaikan ibadah lima kali sehari.
Karena Tuhan itu satu. Satu untuk setiap orang. Berbeda? Itulah ciptaan-Nya.
Dan itulah indahnya dunia.